+50 jam perjalanan menuju kampung halaman

Masih di bulan syawal saya mengucapkan " Taqabbalallaahu Minna Waminkum", sudah lewat 2 minggu  setelah hari Raya Idulfitri, dan saya sudah kembali lagi bekerja di ibukota. Alhamdulillah akhirnya bisa mudik juga setelah sebelumnya saya khawatir tidak dapat cuti lebaran karena kan musti lihat dulu siapa-siapa yang mengajukan cuti, liburan panjang begini pasti banyak yang mau memanfaatkan. Sebenarnya, jika toh tak dapat cuti saya masih akan mudik, namun saya harus tetap usaha  cuti saya disetujui. Seperti tahun-tahun sebelumnya saya tidak pernah mendapatkan tiket kereta Api saat mudik lebaran, tiket sudah habis bahkan ludes beberapa menit sejak pemesanan dibuka.

Tentang tiket mudik lebaran, biasanya memang sudah dibuka sejak sebelum Ramadhan konon tiket sudah bisa dipesan sejak 30hari sebelum keberangkatan (tolong koreksi kalau salah), nah selama itu pengajuan cuti saya tentu saja belum ada jawaban. walhasil, karena mepet dengan perayan IdulFitri sejak beberapa tahun lalu saya kerap mudik dengan menumpang pesawat .

Hari Raya selalu ditunggu-tunggu, perburuan tiket membuat saya bersemangat, karena tidak mendapat tiket kereta api setiap hari saya memantau harga tiket pesawat yang masih diangka sama, harga turun untuk penerbangan pertama di pagi hari H lebaran, saya emoh nggak maulah, saya maunya bisa sholat Ied di kampung karena di momen ini biasanya saya bisa bertemu dengan tetangga dan teman masa kecil.

Ah ya soal mudik. Karena kesal dengan harga tiket pesawat yang kenapa bisa mahal gitu ya? padahal bedanya 100rb saja dibanding tahun lalu  saat saya mudik. Sepupu saya memberikan info "mudik bareng" ke kota kelahiran saya rombongan dengan bus, diadakan oleh semacam komunitas perantau dan para sponsor. Sejak dulu sudah kepikiran pengen mudik jalan darat lagi, pengen mastiin apakah perjalanannya akan sama seperti yang pernah saya alami beberapa tahun lalu yaitu 3hari 2malam?, toh lebaran tahun ini ada di hari rabu, jadwal mudik bareng di hari sabtu tanggal 2 Juli, kalau toh perjalannnya molor hingga 3 atau 4 hari inshaallah saya masih bisa ikut sholat Ied dikampung sedangkan dahulu tidak bisa.

Sebelum bergabung dengan rombongan "mudik bareng" saya sudah menghubungi beberapa agen bus untuk menanyakan harga tiket mudik lebaran, semua nomor telpon agen bus yang saya miliki tidak ada yang bisa tersambung. Saya galaunya, jika saya langsung menuju terminal bus, begitu tiba dilokasi saya akan dikerubuti calo-calo (seperti dahulu, tidak tahu seperti apa terminal bus sekarang), sehingga saya sulit menolak, tidak bisa memilih agen bus yang saya minati. 

OK, saya putuskan untuk gabung ikut "mudik bareng" menumpang bus. Ibu saya berkali-kali menelpon saya untuk sebaiknya pulang dengan menumpang pesawat saja apalagi seminggu menjelang mudik saya terkena flu. Sepupu saya yang lain menghubungi, memberikan informasi tiket pesawat murah untuk penerbangan hari selasa tanggal 5juli, padahal sebenarnya bukan semata-mata itu. Saya sudah memutuskan ini kesempatan mudik dengan bus, saya akan melihat arak-arakan kendaraan keluar ibukota menuju kampung halaman masing-masing, dengan segala macam alat transportasi darat dan perbekalan yang mereka bawa, ada yang menumpang truk, pick-up yang sudah dimodivikasi dengan diberi penutup terpal penghalau matahari dan hujan, pesepeda motor, bajaj, bus jalur jakarta-bekasi, angkutan kota jakarta segala jenis merk mobil/ kendaraan pribadi. Saya akan merasakan seperti beberapa tahun lalu, perasaan haru ikut senang menjadi bagian pemudik, bisa pulang bertemu keluarga, kerabat, tetangga, teman dan sahabat.

Tanggal 2 Juli, saya menuju tempat yang ditentukan oleh pihak panitia. Barisan bus sudah rapi didepan kami 17 bus yang akan mengangkut kami menuju kota tujuan. Calon pmudik berkumpul sejak pukul 6 pagi, ada performance dari Dorce menghibur dengan lagu-lagu pop, dangdut hingga melayu, saat pendaftran ulang saya (kami) menerima bingkisan berupa snack dan beberapa minuman halal untuk perbekalan, didalamnya juga terdapat sarung dan amplop berisi uang, saya senyum-senyum lumayanlah ya dapat bingkisan. Sebelum berangkat kami juga diberi bekal nasi kotak menu padang untuk berbuka puasa, dan amplop yang berisi uang bisa digunakan untuk membeli menu makan sahur  esok harinya, begitu menurut panitia.

Menunggu diangkut bus untuk mudik, sambil melihat penampilan Dorce live mendedangkan lagu Pop, Dangdut dan melayu.
Bus yang saya tumpangi berangkat pukul 09.10pagi pada 2 Juli 16, arsk-arskan bus kami dikawal oleh mobil militer sampai tiba didekat arah tol (ga paham mobil apaan namanya) alhamdulillah perjalanan relatif lancar bahkan saat tiba di tol meskipun antrian panjang tapi tidak stuck. Tiba di Cirebon sudah menjelang maghrib, nasi kotak dan bekal yang diberikan oleh panitia milik saya yang saya letakkan dicabin bus diatas tempat duduk saya raib entah kemana, ya sudahlah tidak apa-apa toh saya sudah menyiapkan bekal saya sendiri, jumat  malam sebelum berangkat saya membeli beberapa butir apel dan minuman susu kotak dan mineral sengaja untuk bekal buka dan sahur selama perjalanan.


Di Cirebon, usai urusan saya ngobrol dengan Sang Maha Kuasa saya kembali ke bus, kami berangkat melanjutkan perjalanan yang kemacetannya  luar biasa. Meskipun crew bus dan koordinator rombongan memutuskan tidak menggunakan jalur tol brexit (sudah populer) karena melihat antrian masuk tol yang teramat panjang, kamipun berada di brebes semalaman, bus tak bergerak tanpa kami tahu apa yang terjadi. 

Hari minggu siang tgl 3Juli, bus yang saya tumpangi hanya melaju beberapa inch saja. Saya kira busnya bermasalah karena AC-nya tak berasa, menurut kawan saya suhu udara diluar yang panaslah yang membuat hawa bus juga tak terasa ber AC. 


Peenumpang bus tak tampak emosi, mereka memilih entah tidur beneran atau hanya memejamkan mata, beberapa berkaraoke lagu jawa, pantura, banyuwangi, lagu-lagu Nike Ardila hingga lagu dangdut lirik sangat dewasa namun dinyanyikan oleh bocah  11tahunpadahalkepalasayasudahnyutnyutan

Lebih banyak yang "menghibur diri sendiri" daripada marah-marah, suara kokok ayam tak henti bersautan. Iya kokok ayam yang saya kira adalah jam weaker ternyata seorang penumpang rupanya membawa 2 ekor ayam yang diletakkan mungkin kardus atsu kurungan saya tak lihat tapi arah suaranya berasal dari bawah kursi jok penumpang.

Sama seperti saya, ibu dan Ning saya yang menghubungi berkali-kali menanyakan keadaan saya, keluarga mereka (penumpang bus) dikampung juga menghubungi menanyakan kabar mendoakan semoga semuanya sehat dan perjalanan lancar,  keluarga menunggu mereka tiba. Lebih banyak yang bersuka cita karena akan segera pulang bertemu saudara dan kerabat, beberapa penumpang tampaknya juga sudah lama tidak mudik ke kampung.

Di seberang lorong kursi saya adalah seorang ibu muda yang membawa 2 anak perempuannya, seorang anak usia 10th dan balita yang hanya rewel di hari sabtu karena masuk angin, hari minggu ketika lebih banyak penumpang dewasa kelelahan balita ini masih tampak ceria bercanda dengan si kakak, mereka senang ketika nenek atau bude mereka menghubungi mengabarkan akan dijemput. Saya ikut senang, bagian ini juga yang paling saya suka ketika mudik bertemu orang-orang baru melihat wajah bahagia akan segera bertemu sanak saudara betapapun lelahnya perjalanan. 

Saya lupa pukul berapa bus bisa keluar dari Brebes, tiba di semarang hingga kendal perjalanan mulai lancar.  Dinihari pada senin 4Juli ketika saya terbangun kawan saya menyampaikan bahwa kami sudah masuk wilayah Tuban-Jawa Timur sungguh lega rasanya. Senin 4Juli pukul 5pagi bus yang saya tumpangi mulai masuk kota Malang, hanya senang dan senang  meskipum ternyata perjalanan mudik saya nyaris sama saja seperti beberapa tahun lalu, 3hari perjalanan.

Sejak awal saya memutuskan mudik dengan menumpang bus, meskipun sepupu saya beberapa kali memastikan saya jadi ikut bus atau tidak (karena saya cerita kondisi flu saya) saya bilang pada diri sendiri "apapun yang terjadi ngga boleh ngeluh dijalanan". 

Ibu dan keluarga saya lega saya tiba dirumah, dan bertemu paman saya dia menepuk bahu saya "sehat nduk? Alhamdulillah selamat, kamu tahu kejadian di brebes? Kabarnya 17orang meninggal". Ternyata paman saya juga mengkhawatirkan saya dia paman terbaik yang saya punya, tapi saat itu saya belum tahu kejadian tol Brebes "Brexit". Sudahlah, Alhamdulillah diberi nikmat merasakan Ramadhan bertemu sanak keluarga teman sahabat di hari Raya, InshaAllah diberikan kesempatan lagi tahun-tahun yang akan datang.







Comments

  1. Mbak Ru, seru banget perjalanan menuju kampungnya. Segitu lamanya ya menuju Malang sampai 3 hari. Dan pengalaman Selama perjalanan ini sungguh luar biasa ya, pakai acara kehilangan nasi kotak hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya alhamdulillah mba Evi, padahal bingkisan dan kotak makan itu tadinya akan saya berikan ke penumpang yang lainnya, mungkin yang ga sengaja ngambil itu lebih membutuhkan ya hehehe

      Delete
  2. Pengalaman seru menguji stamina.
    Heran saja sama pengelola jalan tol dan pemda, kalau memang tak layak pintu keluar tol brebes (brexit) kenapa harus dipaksakan harus buka?
    Semoga mudik tahun depan kalo diberi umur panjang lebih lancar jaya, aamin.

    ReplyDelete
  3. Iya mudik memang seru. Amiin inshaallah tahun-tahun selanjutnya semua bisa lancar ya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts