ketika bicara tentang When Breath Becomes Air



Bukan review.

Sambil menyusuri rak-rak buku akhirnya saya bilang kepada diri sendiri “ok, kali ini saya ingin hadiah untuk diri sendiri”, hadiah? rasanya itu alasan untuk jajan buku karena hadiah koq nyris tiap minggu. Saya berhenti disebuah rak dengan buku cover dominan warna hijau, saya tidak tertarik dengan covernya, jadi saya lewati saja tanpa meraih bukunya. Mata saya masih scanning buku-buku lain yang terpajang disampingnya, tidak tertarik gumam saya. Sayangnya, mata saya berkali-kali melirik reflek pada buku bercover dominan hijau, bukan judulnya yang membuat saya meraih buku ini, tapi sub judul bukunya membuat saya kembali lagi ke rak buku, membuat saya berpikir dan memutuskan membaca sinopsisnya

Saya baca sinopsisnya cepat, cukup surprise dan agak lemas, baiklah sebut saya “berlebihan”, tapi, ya bagaimana tidak? . Hari itu akhir minggu, di bulan dan tanggal kelahiran saya. Setelah beberapa minggu absen melihat dunia (baca= jalan-jalan meskipun hanya ke mall untuk makan bakso di warung langganan saya ) yang biasa saya lakukan tiap week end. Saya pikir waktunya memanjakan diri dengan semangkuk bakso seperti minggu-minggu sebelumnya dan mampir ke toko buku.

Lalu buku bercover dominan hijau ini When breath becomes air apa yang membuat hdup layak dijalani? Adalah Sebuah memoar Paul Kalanithi seorang dokter bedah saraf dan ilmuwan yang didiagnosa kanker paru-paru diusianya ke 35th umur kami tidah jauh berbeda dengan ketika dia didiagnosa, itu yang membuat saya lemas, terlalu muda, dan saya menemukan buku ini terpajang di rak toko buku pada... ah sudahlah. Ya..ya.. saya paham bahwa Umurpun kita ga akan tau bisa saja kapanpun setiap makhluk didunia ini dipanggil kembali “pulang”.


Beberapa hari saya membicarakan buku ini dengan kawan-kawan baik saya, bahkan ketika saya belum selesai membacanya. Saya yang memulai percakapan karena agak “terganggu” dan saya mikirin banget. Saya bicara tentang kekaguman saya pada Paul kalanithi yang mencintai kesusateraan bahkan rasanya saya ingin menyodorkan buku ini ke seorang kawan saya bahwa sastra bukan sekedar bacaan tak bermakna, teman saya tak akan mengindahkan argumen saya jadi lebih baik dia membaca pendapat Paul Kalanithi saja. kemudian kesusteraan membawanya ke bidang kedokteraan saraf .

Membicarakan memoar Paul Kalanithi ini, respon teman-teman saya beragam, dengan seorang kawan baik kami membicarakan tentang euthanasia yang bukan berarti menyerah pada penyakit. Dengan seorang lagi, dia tidak ingin saya berpikir macam-macam, ambil saja sisi positifnya yaitu semangat Paul Kalanithi yang begitu mencintai dunianya pekerjaannya istrinya keluarganya. Berderai airmata saya, gampang banget memang saya terpengaruh isi buku, persis dengan yang dibilang kawan saya yang lainnya lagi. Tapi ya gimana ya? Persaan sedih dan menyesal pasti ada.

Perjuangan kalanithi melawan sakitnya, keinginannya untuk tetap bisa bekerja sebagai dokter bedah saraf meskipun dia sendiri dalam keadaan sakit, kankernya yang begitu progresif menyerang tubuhnya. Paul Kalanithi meninggal pada Maret 2015 setelah berjuang melawan kanker yang didertitanya. Pada halaman terakhir istrinya Lucy menyelasaikan memoar ini, menceritakan bagaimana pada akhirnya Paul Kalanithi menyerah, namun  dia telah benar-benar berjuang dan Paul Kalanithi memiliki kehidupan yang bermanfaat bagi orang lain.

Saya sudah bilang ini bukan review, jadi tentang when breath becomes air mungkin bisa baca reviewnya di goodreads.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya “ –HR. Thabrani- 


.




Comments

  1. Beberapa waktu ini saya sering mikir tentang kondisi kesehatan... Mungkin karena dapat kabar tentang beberapa teman semasa sekolah yang meninggal karena kanker... Usia yang bertambah mau nggak mau membuat kita harus beralih ke pola hidup lebih sehat ya mbak Ru.. Yahhh pinginnya sih panjang umur, sehat dan bahagia ya.. tapi harus ada usaha dan upaya untuk sehat. :) Semoga sehat mbak.. bertambah usia juga bertambah bahagia ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hi mbak Haya, baru direspon nih maafkan. amiiin inshaallah kita dan keluarga diberi kesehatan ya.

      Delete
  2. Ah buku yang seperti ini biasanya aku hindari, Mbak Ru. Masalahnya aku juga amat gampang terpengaruh mengenai kisah sedih. Bisa berhari-hari atau berbulan-bulan tuh melepaskan diri dari pengaruhnya...

    Tapi mestinya aku fokus di perjuangannya saja ya, pada semangat pantang menyerahnya Paul...Bukan tentang kesedihan..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hi mbak Evi, alm. Paul sangat berdidikasi kpd pekerjaan dan keluarganya (ini dari yg saya baca), ilmunya bermanfaat.

      Delete

Post a Comment

Popular Posts